MERAJUT UKHUWWAH – MENEBAR SUNNAH
Selamat Datang di Majalah Dinding (MADING) "PesanTrend" kami <><><><><> Wadah kreativitas jurnalis santri (IJSMM) untuk meningkatkan semangat menulis dan berkreasi. <><><><><><><><><><> Semua karya disini adalah hasil olah-tangan jurnalis santri yang sedang belajar menekuni jurnalistik. Kritik dan saran untuk kebaikan kita bersama, senantiasa kami terima dengan tangan terbuka dan lapang dada....Akhirnya kami mengucapkan selamat menikmati sajian kami.......
Salurkan Bantuan Anda Untuk Pembangunan PERLUASAN MASJID AL-MANAR
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan pastisipasinya.


Jumat, 04 November 2011

MENYAMBUT IDUL AD-HA 1432 H




Tak ada hari-hari yang dapat menandingi hari-hari di dalam 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, demikian sabda Rasulullah dalam sebuah haditsnya yang menerangkan keutamaan bulan Dzulhijjah dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Pada hari-hari inilah umat Islam dari seluruh penjuru dunia berdatangan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah hajji yang telah disyariatkan semenjak zaman Nabi Ibrahim a.s hingga akhir zaman kelak.
Bagi mereka yang mampu dan sanggup (secara syar’i) menunaikan ibadah haji namun tidak juga segera ditunaikan, Rasulullah Muhammad SAW melarangnya untuk mendekati musholla (tempat sholat beliau), sedangkan di zaman khalifah Umar bin Khattab, mereka dikenakan jizyah (upeti sebagai pertanda mereka bukan tergolong orang Islam).
Bagi mereka yang tidak menunaikan hajji ada beberapa hal yang perlu disosialisikan atau dimasyarakatkan antara lain yakni :
  1. Berpuasa 1 (satu) hari pada hari arafah (yaumul ‘arofah) yang dilakukan pada hari ke-9 di bulan Dzulhijjah. Untuk tahun 2011 ini jatuh pada hari Sabtu, 5 Nopember 2011.
  2. Mengumandangkan TAKBIR, TAHMID dan TAHLIL (sebagaimana di hari idul fitri) sejak fajar (Subuh) tanggal 9 Dzulhijjah (Sabtu, 5 Nop 2011) hingga Asar pada tanggal 13 Dzulhijjah (Rabu, 9 Nop 2011). Ini artinya mengumandangkan takbir selama 5 (lima) hari berturut-turut yang dilakukan di saat selepas sholat wajib dan sunnah/rawatib maupun di luar sholat seperti di majlis taklim, majlis ilmu dll.
  3. Bagi mereka yang sudah berniat untuk BERKURBAN maka ;
    1. Semenjak tanggal 1 (satu) Dzulhijjah hingga pada saat pelaksanaan pemotongan hewan kurban (10 Dzulhijjah), hendaknya mereka (ORANG YANG BERKURBAN) tidak memotong kuku dan rambut, bercukur dan sejenisnya seperti layaknya orang yang sedang beribadah hajji.
    2. Selayaknya hewan kurban disembelih dengan tangan sendiri (tangan orang yang berkurban) namun jika tidak memungkinkan maka ORANG YANG BERKURBAN HARUS HADIR MENYAKSIKAN penyembelihan tersebut, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW menyuruh anak beliau (Fatimah) untuk hadir menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya.
    3. Lafadz yang diucapkan bagi penyembelih ketika menyembelih hewan kurban di hari Idul Ad-ha adalah BISMILLAH ALLAHU AKBAR. Sedangkan menyembelih hewan kurban selain di hari Idul Ad-ha hanyalah BISMILLAH.
    4. Sedangkan lafadz yang diucapkan bagi orang yang berkurban di saat menyaksikan penyembelihan tadi adalah sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 162-163 yaitu :
إِنَّ صَلاَتىِ وَنُسُكىِ وَمَحْيـَاىَ وَمَـمَـاتىِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَٰـلَمِيْنَ﴿162لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَـاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ﴿163
    1. Orang yang berkurban BOLEH MENIKMATI daging kurbannya (untuk dimakan dan sejenisnya) sebanyak 33 % (sepertiga bagian) sedangkan sisanya sebanyak 67 % (dua pertiga bagian) dibagikan kepada fakir miskin sebagai sedekah dan atau kepada orang yang mampu sebagai HADIAH (harus dinikmati oleh orang yang mampu tersebut).
    2. Menurut hematnya lebih baik berkurban seekor kambing untuk 1 (satu) orang daripada berkurban seekor sapi/kerbau atau sejenisnya untuk 7 (tujuh) orang secara patungan.
Demikianlah sebagian kecil hal-hal yang perlu kita masyarakatkan bersama di lingkungan kita berada, yang berkaitan dengan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah ini.
Ibadah haji merupakan ibadah yang sudah sangat tua usianya yakni sejak Nabi Ibrahim a.s. bersama Nabi Isma’il a.s. membangun Ka’bah dengan ukuran yang sungguh mukjizat karena berbentuk persegi namun tidak siku-siku (mungkin dapat disebut trapisium).
Ka’bah adalah baitullah pertama yang ada di muka dunia yang didalam pembangunannya Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Isma’il bertindak sebagai pelaksana pembangunan, sementara malaikat Jibril bertindak sebagai pengawas dan pembimbing (arsitek/kontraktor) pembangunan.
Pelaksanaan pembangunan ini juga mendatangkan alat/bahan dari surga yaitu sebongkah batu yang lebih dikenal dengan sebutan maqam Ibrahim dimana batu tersebut memiliki ketebalan di satu sisi sekitar 10 cm sedangkan di sisi lainnya setebal 9 cm.
Kelebihan batu tersebut adalah dapat bergerak naik dan turun secara otomatis (seperti lift) sesuai kehendak hati Nabi Ibrahim a.s. tatakala meletakkan batu-batu hingga berupa Ka’bah.
Alat/bahan lain yang juga berasal dari surga adalah sebongkah batu putih yang kini menjadi hitam yang dikenal dengan sebutan hajar aswad (batu hitam). Hitamnya batu tersebut lantaran umat manusia di saat itu sangat banyak melakukan kesyirikan dan bentuk-bentuk kemaksiatan lainnya sehingga hajar aswad tidak akan lagi dapat kembali putih sebagaimana asalnya.
Ketika Ka’bah sudah selesai dibangun/dipugar, Nabi Ibrahim a.s. pun diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyeru kepada seluruh umat manusia di segala penjuru untuk datang ke Ka’bah ini. Padahal di sekitar Ka’bah tidak ada penduduk di saat itu, kecuali Nabi Ibrahim a.s bersama anak sulung beliau yakni Nabi Isma’il a.s.
Inilah awal dikumandangkannya syari’at untuk datang ke Ka’bah yang lebih dikenal dengan sebutan khusus yakni ibadah hajji yang berlaku hingga akhir zaman kelak. (QQ dan tim MADING PesanTrend)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Berikanlah Komentar Anda Disini Dengan Sopan dan Baik

BERITA KAMI DI FACEBOOK

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...